SILAHKAN MASUKAN ATAU SARAN GUNA KEBAIKAN BLOG INI KE ; BLOG_SUNNAHKU@YAHOO.COM

Saturday, December 23, 2006

Syubhat-Syubhat Anti Poligami

Para penentang Poligami ada tga tipe:

  1. Seseorang yang memusuhi dan membenci Islam (QS.Al-Baqarah:120) "Sekali-kali orang-orang Yahudi dan Nashrani itu tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka"
  2. Seseorang yang bodoh terhadap Islam
  3. Orang yang mengenal kebaikan poligami akan tetapi tertimpa krisis kepribadian Islam dan mencintai orang-orang asing.
Para penentang poligami berkata : Kami mmengambil dalil tentang tidak disyariatkannya Poligami dengan firman Allah Ta'ala :
Dan sekali-kali kamu tidak akanbisa berbuat adil diantara wanita-wanita meskipun kammu bersungguh-sungguh (An-Nisa129)

Mereka berkata : Sungguh ayat ini datang menjelaskan tentang tidak adanya kemampuan, dan dari sini menunjukan dilarangnya poligami. Pandangan ini adalah kerancuan yang nyata dan bantahannya sangat jelas. Sesungguhnya al-Qur,an itu tidak mungkin kontradiktif, hingga membolehkan perkara disuatu tempat dan mengharamkannya ditempat lain. Sesungguhnya yang dituntut untuk berbuat adil dalam nafkah, pergaulan dan seluruh amalan-amalan yang zhahir. Tidak boleh melebihkan salah satu istri pada yang lain secara zhahir. Adapun adil yang dimaksud pada ayat itu- yang tidak bisa mungkin dicapai adalah-perasaan hati.

Dan sekali-kali kamu tidak bisa berbuat adil diantara istri-istri meskipun kamu bersungguh-sungguh. Maka janganlah kamu cenderung (pada yang kamu cintai) sementara kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu berbuat adil dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa129)

Setiap orang tahu bahwa Rasul SAW adalah seadil-adilnya mahluk. Beliau pembimbing manusia dan pembuat syariat. Beliau mencintai Aisyah lebih daripada istri-istri yang lain, karena hati diantara jari-jemari Alah, yang akan Dia bolak-balikan sesuai kehendakNya. Beliau mengerti tentang itu, dan berkata:
Ya Allah inilah pembagianku terhadap istri-istri yang aku miiki, maka janganah Engkau cela aku dengan apa-apa yang Engkau miliki dan tidak Engkau miliki. (HR.Abu Dawud, Tirmidzi,nasa'i)

Termasuk kerancuan yang dilontarkan oleh penentang Poligami adalah bahwa beristri dua itu akan menimbulkan permusuhan diantara istri-istri mereka, demikian pula diantara-anak-anaknya.
Sebelum kami menjawab kerancuan itu, kami akan bertanya:"Apakah suami yang memiliki anak-anak dan dua istri, yang satu secara syari 'dan lainnya tidak syar'i kemudian menimbulkan permusuhan diantara istri yang syar'i dan yang tidak syar'i? Apakah demikian pula kebencian diantara anak-anaknya?"
Sesungguhnya kebencian diantara madu merupakan sesuatu yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu yang menjadi tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut tergantung kemampuan seorang suami dalam mengatur urusan keluarganya, keadilan terhadap istrinya dan tawaqalnya kepada Allah Ta'ala. Jika tanggung jawabnya terpenuhi, maka akan tegak keluarganya. Jika tidak terpenuhi, maka akan berantakan keluarganya, baik berpoligami ataupun tidak.
Kenyataannya manusia mendustakan syubhat ini dan semisalnya. Betapa banyak kita lihat dari saudara sekandung yang mereka selalu bertengkar hingga kehidupannya terasa dineraka. Sebaliknya saudara sebapak, hidup rukun dan damai, saling mencintai satu sama lain.
Memang benar, terkadang kita jumpai pertengkaran itu pada keluarga yang beristri lebih dari satu. Namun itu dikarenakan kurangnya tanggung jawab seorang suami yang tidak bisa berbuat adil diantar istri-istrinya. Hal ini membutuhkan obat yang bisa menghilangkan penyakit itu. Akan tetapi untuk menghilangkan penyakit itu tidak dengan menolak poligami yang banyak mengandung faedah didalamnya. Coba kita perhatikan pergaulan manusia, nampak adanya individu yang tidak lurus, jelek akhlaknya, dan tidak punya kepribadian. Maka apakah kita anggap bathil seluruh pergaulan itu gara-gara sebagian individu yang menyimpang dari jalan yang lurus? Apakah harus meningalkan pergaulan seluruh manusia? Dan bila terdapat kejelekan pada sebagian orang-orang bodoh terjadi (dalam perkara poligami itu), maka kejelekan itu tidak semestinya dibesar-besarkan. Mengingat besarnya faedah poligami dibanding kejelekan yang timbul dari poligami. Sumber: "Fadhl Ta'addud az-Zaujat" Syaikh Abu Abdur Rahman Pustaka Imam Bukhari.