Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.
Imam Asy-Syafi`i Imam Ahlus Sunnah
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.
NASAB BELIAU
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).
TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
PERTUMBUHANNYA
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
KECERDASANNYA
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”
MENUTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:
1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah
2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i
4. Sufyan bin Uyainah
5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:
1. Malik bin Anas
2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya
Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;
1.Mutharrif bin Mazin
2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
2.Ismail bin Ulayah.
3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.
MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:
1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
KARYA BELIAU
Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.
PUJIAN ULAMA PARA ULAMA KEPADA BELIAU
Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).
Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.
Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”
Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”
Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”
Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”
Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”
PRINSIP AQIDAH BELIAU
Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.
Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,
“Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”
PRINSIP DALAM FIQIH
Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”
Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”
Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”
SIKAP IMAM ASY-SYAFI`I TERHADAP AHLUL BID’AH
Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”
Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”
Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”
PESAN IMAM ASY-SYAFI`I
“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”
WAFAT BELIAU
Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”
KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI`I
“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.
Sumber: Majalah As-Salaam
Selengkapnya...
Thursday, June 28, 2007
Biografi Imam Asy-Syafi’i
Tuesday, January 9, 2007
Abdullah bin Abbas
Nasab dan Kelahirannya.
Abu Abbas (kunyah dari Abdullah bin Abbas) adalah pemimpin umat, faqih di masa itu, dan imam at-tafsir. Abdullah adalah anak laki-laki dari paman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yaitu Abbas bin Abdul Mutholib Syaibah bin Hasyim, (namanya adalah) Amr bin Abdul Manaf bin Qashay bin Kilab Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Gholib bin Fihar Al-Quraisyi Al-Hasyimi Al-Makki Al-Amir.
Belau lahir di rumah bani Hasyim pada tahun ke-3 sebelum hijriyah dan ada yang mengatakan tahun ke-2 sebelum Hijrah. Ibunya bernama Ummul Fadhl Lubabah binti Harits bin Hazn bin Bujair Al-Hilaliyyah bin Hilal bin 'Amir. Ia adalah saudara wanitanya ummul mukminin Maimunah. Ibnu Abbas dikaruniai beberapa anak, yang paling besar bernama Abbas. Nama ini dikunyahkan kepadanya (baca, Abu Abbas), kemudian Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, Lubabah, Asma' dan yang paling kecil adalah Ali.
Kepribadian Abdullah bin Abbas.
Beliau adalah shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, juga anak laki-laki paman Rasulullah. Selisih umur Ibnu Umar dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sekitar 58 tahun (Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam wafat ia berumur 15 tahun, Fathu Rabbani juz 22, Hal 294). Kemudian ia hijrah bersama kedua orang tuanya pada tahun penaklukan kota Makkah, sedang ia telah masuk Islam sebelumnya. Beliau elok mukanya, berkulit putih, ganteng, tinggi badannya, gagah, cerah roman mukanya bagai bulan. Berkata 'Atta' dalam Siyar Al-A'lam An-Nubala', "Waktu kami melihat bulan, malam ke-14, yang kami ingat tak lain adalah wajah Ibnu Abbas." Selain akalnya cerdik, kaya dan termasuk laki-laki sempurna. Sehingga beliau dikatakan hibrul ummah (pemimpin ummat), faqihul ashr (faqih di masanya) dan imam tafsir. Ia dijuluki pula al-bahr (lautan) karena banyaknya ilmu. Disamping itu ia banyak dido'akan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas adalah shahabat Nabi yang kaya raya, sehingga tidak pernah kosong roti dan daging di dalam rumahnya. Walau demikian, ia bersikap dermawan. Diterangkan dalam Siyar Al-A'lam An-Nubala' III/352, bahwa Abu Ayyub Al-Anshari datang kepada Mu'awiyyah, ia laporkan apa yang menjadi beban hutangnya namun ia tidak mendapatkan seperti yang ia ingini kemudian ia pergi ke Bashrah, menuju ke rumah Ibnu Abbas. Sesampainya disana, kemudian ia curahkan isi hatinya, "Sungguh saya perlu denganmu, sebagaimana engkau perlu kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Kemudian Ibnu Abbas berkata, "Berapa tanggungan hutangmu ?" Abu Ayyub Al-Anshari menjawab, "dua puluh ribu." Kemudian Ibnu Abbas memberinya empat puluh ribu, dua puluh budak dan lainnya yang ada di rumahnya.
Semua insan tidak lepas dari cobaan, musibah dan ujian. Tak terkecuali Ibnu Abbas. Ia mendapat musibah pada masa lanjut usia dengan lemah pandangannya dan buta kedua matanya. Ketika tertimpa musibah tersebut, datanglah sekelompok penduduk Thoif menghadap Ibnu Abbas sambil membawa kedua buku karya beliau. Mereka minta dibacakan. Permintaan itu menjadikan Ibnu Abbas bimbang. Lantas beliau berkata, "Sesungguhnya aku bimbang lantaran musibahku ini. Maka barangsiapa memiliki ilmu dariku, hendaknya ia bacakan di hadapanku. Sesungguhnya pengakuanku adalah seperti bacaanku sendiri." Kemudian mereka pun membacakan kitab tersebut di hadapannya.
Ilmu Ibnu Abdullah bin Abbas
Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang terkenal banyak ilmunya adalah shahabat Abdullah bin Abbas, sehingga beliu dijuluki al-bahr (lautan) karena luas dan banyaknya ilmu. Beliau menguasai dengan baik dari ilmu fiqh sampai kepada ilmu ta'wil Al-Qur'an dan yang terkenal dari beliau adalah bidang tafsir. Semua itu berkat do'a-do'a dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepadanya.
Ibnu Abbas termasuk salah seorang sahabat yang lebih pandai dalam tafsir Al-Qur'an dari sekian banyak shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
Dan sebaik-baik penerjemah Al-Qur'an adalah Ibnu Abbas. Di dalam kitab Al-Mustadrak halaman 618 berkata Syaqiq, "Ibnu Abbas berkhutbah pada waktu musim haji, beliau membukanya (memulainya) dengan surat An-Nur lantas berlalu membaca dan menafsirkannya. Kemudian kami berkata, "Kami tidak pernah melihat dan mendengar perkataan seorang laki-laki seperti dia, seandainya penduduk Persia dan Romawi mendengarkannya niscaya mereka akan masuk Islam." Pada halaman 619 Abu Wail berkata, "Kami dan shahabat kami melaksanakan ibadah haji. Ibnu Abbas sebagai amir haji, kemudian beliau membaca surat An-Nur dan menafsirkannya. Lantas sahabat kami berkata, "Subhanallah, apa yang keluar dari kepala orang laki-laki ini. Seandainya bangsa Turki mendengar ini tentu mereka akan masuk Islam." Dalam kitab As-Siyar III/342 Thawus berkata, "Kami tidak melihat yang lebih sangat ta'dzimnya bagi hurumatillah dari Ibnu Abbas." Abdullah bin Mas'ud berkata, "Seandainya Ibnu Abbas mengetahui umur (ilmu) kami, tentu tiada seorangpun dari kami sepersepuluhnya." (sanadnya shahih dalam at-Thabaqat II/366). Abu Shaleh berkata, "Sungguh kami telah mengetahui majelis Ibnu Abbas. Seandainya semua kaum Quraisy berbangga niscaya cukuplah mereka berbangga dengannya. Dan sungguh kami mengetahui manusia berkumpul, sehingga jalan menjadi sempit, seseorang yang datang sulit baginya kembali. Berkata (Abu Shaleh), "Aku masuk kedalam dan aku kabari Ibnu Abbas, bahwa mereka menunggu di pintu." Ibnu Abbas berkata kepadaku, "Ambilkan air wudhu untukku." Kemudian beliau wudhu dan duduk seraya berkata kepadaku, "Keluarlah dan katakan kepada mereka dan katakan kepada mereka, "Barangsiapa yang ingin bertanya kepada Al-Qur'an dan huruf-hurufnya hendaknya ia masuk!" Kemudian aku keluar dan memberitahukan mereka. Maka masuklah mereka sehingga penuhlah rumah dan kamarnya. Dan tidaklah mereka bertanya tentang sesuatu, kecuali dijawabnya. Bahkan lebih banyak dan luas dari yang ditanyakan. Beliau berkata, "(Ganti) teman-temanmu yang lain." Maka mereka keluar. Kemudian ia berkata kepadaku, "Keluarlah dan katakan kepada mereka barangsiapa yang ingin bertanya tentang halal dan haram serta fiqh, hendaknya ia masuk!" Kemudian aku keluar dan memberitahu mereka. Maka masuklah mereka sehingga penuhlah rumah dan kamarnya. Dan tidaklah mereka bertanya tentang sesuatu kecuali dijawbnya, bahkan lebih banyak dan luas dari yang ditanyakan. Beliau berkata "(Ganti) teman-temanmu yang lain." Maka mereka keluar. Kemudian ia berkata kepadaku, "Keluarlah dan katakanlah kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang fara'idh (hukum waris) dan yang semisalnya, hendaknya ia masuk!" Kemudian aku keluar dan memberitahu mereka. Maka masuklah mereka sehingga penuhlah rumah dan kamarnya. Dan tidak mereka bertanya tentang sesuatu pun kecuali dijawabnya, bahkan lebih banyak dan luas dari yang ditanyakan. Beliau berkata, "(Ganti) teman-temanmu yang lain!" Maka mereka keluar kemudian ia berkata kepadaku lagi, "Keluarlah dan katakan kepada mereka dan katakan kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang Bahasa Arab, Syair dan kata-kata asing, hendaknya ia masuk!" Kemudian aku keluar dan memberitahu mereka. Maka masuklah mereka sehingga penuhlah rumah dan kamarnya. Dan tidak mereka bertanya tentang sesuatu kecuali dijawabnya, bahkan lebih banyak dan luas dari yang ditanyakan. Abu shaleh berkata, "Seandainya semua kaum Quraisy berbangga niscaya cukuplah mereka berbangga dengannya." Ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seseorang seperti dia." (Al-Mustadrak juz III Hal 619).
Masruq berkata, "Apabila kami melihat Ibnu Abbas, kami berkomentar, "Manusia paling cakep". Apabila ia bertutur kata, kami berkata, "Paling fasih diantara manusia," Dan apabila bercakap-cakap, kami berkata, "Paling pandai diantara manusia" (Siyar Al-A'lam An-Nubala' III/351).
Musnad Abdullah Ibnu Abbas sebanyak 1660 hadits, yang disepakati bukhari dan muslim sebanyak 75 hadits, bukhori 120 hadits, dan muslim sebanyak 9 hadits.
Ibnu Abbas, apabila ditanya tentang sesuatu, jika yang ditanyakan ada keterangan di kitab Allah maka ia menjawab dengannya. Jika tidak ada, dan adanya berdasar sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam maka ia mengatakan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Jika dari keduanya (Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah) tidak ada dan adanya dari shahabat (Abu Bakar, Umar) maka ia mengatakan dengan perkataannya. Apabila ketiga-tiganya tidak ada maka ia berijtihad dengan ra'yunya (dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Ilmu II/57).
Kelebihan/Keutamannya.
Keistimewaan yang dimiliki Ibnu Abbas banyak sekali diantaranya :
1. pernah ia didekap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seraya beliau do'akan :
اللهم علمه الحكمة
Ya Allah, ajarkan kepadanya hikmah, yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Qur'an. (Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi juz X no. 4077). Dalam fathul baary juz I halaman 224 beliau mendo'akan dengan lafazh :
اللهم علمه الكتاب
Ya Allah, ajarkan kepadanya al-kitab.
2. Ibnu Abbas pernah melihat jibril dalam dua kesempatan :
a. Ibnu Abbas berkata "Aku bersama bapakku di sisi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan sisamping Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Maka beliau seakan-akan berpaling dari bapakku. Kemudian kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, "Wahai anakku, tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu, (Rasulullah, pen) seperti berpaling (menghindar) dariku? Maka aku menjawab, "Wahai bapakku, sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya." (Ibnu Abbas) berkata, "kemudian kami kembali (menghadap) Rasulullah. Lantas bapakku berkata, "Ya Rasulullah, aku berkata kepada Abdullah seperti ini dan seperti itu, kemudian Abdullah menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki disamping yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar memang ada seorang disisimu ?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah engkau melihatnya ya Abdullah ?", kami menjawab, "ya," Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihissalaam. Dialah yang menyibukkan kami dari kamu sekalian" (HR Ahmad Fathu Rabbani No 259 Juz 22 hal. 294, dan At-Thabrani dengan sanad dan rijal yang shahih).
b. Abbas mengutus Abdullah kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam suatu hajat (keperluan), dan Abdullah menjumpai seorang laki-laki bersama Rasulullah. Maka tatkala ia kembali dan tidak berbicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, "Engkau melihatnya ?" Abdullah menjawab, "iya," Nabi bersabda, "ia adalah Jibril. ingatlah sesungguhnya ia tidak akan mati, sehingga hilang pandangannya (buta) dan diberi (didatangkan) ilmu" (HR. ath-Thabrani dengan sanad dan rijal yang kuat).
3. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendo'akannya dua kali, yaitu pertama memberikan hikmah atau mengajarkan kitab -ketika Rasulullah mendekap ke dadanya. Kedua, mendo'akan dengan mengajarkan kepandaian dalam ilmu agama. Yaitu ketika ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudhu (Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi juz X No. 4075). Warqa' bin Umar al-Yasykari berkata, "Kami mendengar Ubaidallah bin Abi Yazid menceritakan tentang Ibnu Abbas. Bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam di dalam kamar kecil - dan kami meletakkan air wudhu untuk beliau. Maka tatkala keluar Rasulullah bertanya, "Siapa yang menyiapkan air wudhu ini ? Mereka menjawab, "Ibnu Abbas," Kemudian Nabi mendo'akannya,
اللهم فقهه
Ya Allah, faqihkanlah (fahamkanlah) ia. (HR Muslim).
4. Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendo'akan kepadaku agar Allah memberikan kepadaku ilmu hikmah itu dua kali (yang dimaksud hikmah disini adalah ilmu, fiqh qadha' (hukum) dengan adil (zhahir maknanya ialah, pemahaman terhadap Al-Qur'an) (Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi juz X/hal 10).
5. Umar pernah berkata kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya pada suatu hari kami melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendo'akanmu kemudian mengusap kepalamu lantas berdo'a :
اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
Ya Allah, Faqihkanlah dia didalam masalah dien dan berilah pengetahuan didalam masalah ta'wil (tafsir).
Wafatnya
Ibnu Abbas (kunyahnya abu Abbas) wafat di Thaif pada tahun 68 H. Di lain riwayat pada tahun 78 H. Dalam usia 75 tahun, di lain riwayat dalam usia 81 tahun, yang menshalati beliau dan yang menjadi imam adalah Muhammad bin Al-Hanifah (Hunaifah), dan beliau juga yang memasukkan ke dalam kubur.
Di dalam Mustadrak juz III halaman 622 dan dalam Siyar Al-A'lam An-Nubala'. Hadits riwayat Thabrani dan rijalnya adalah sholeh, diterangkan sekilas mengenai wafatnya Ibnu Abbas :
Ibnu Jubair menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif. Kami menyaksikan jenazahnya, maka saat tiba-tiba kami melihat burung putih datang yang tidak diketahui bentuk wujudnya. Kemudian masuk ke dalam keranda mayat ibnu titik. Kami memandang (kerandang itu) dan berpikir apakah burung tersebut akan keluar. Ternyata, burung tersebut tidak diketahui keluarnya dari keranda mayat itu. Dan ketika mayat telah dimakamkan tiba-tiba di tepi kuburan Ibnu Abbas terdengar suara bacaan ayat Al-Qur'an surat al-fajr 27-30.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (surat Al-Fajr 89:27-30). Suara itu tidak diketahui siapa pembacanya.
Allahu a'lam.
Ummu Ali Abdillah
--------------------------------------------------------------------------------
Maraji'
- Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami' at-Tirmidzi, Imam al-Hafidz Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri.
- Fathu Al-Baari syarah Shahih al-Bukhari - Imam Ibnu Hajar Al-Ashqalani.
- Al-Mustadrak ala ash-Shahihaini - Al-Hafidz Hakim An-Naisaburi.
- Siyaru al-'alami An-Nubala' - Al-Imam Syamsuddin muhammad bin Ahmad Adh-dhahabi.
- Al-Fathu Al-Rabbaniyu litartibi Musnad al-imam Ahmad ibni Hanbal Al-Syaibani - Ahmad Abdurrahman Al-Banna.
-------------------------------------------------------------------------------
Note :
diketik ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 18/Th. ke-2 dengan naskah sesuai aslinya (tanpa merubah/mengoreksi kesalahan ketik pada sumber aslinya) termasuk paragraf ke-dua ada yang janggal pada kata-kata "selisih umur Ibnu Umar...", kemungkinan besar yang dimaksud Ibnu Abbas, dan lain-lain.
Selengkapnya...




